Skip to main content

Kredit perbankan nasional pada Agustus 2016 tumbuh 6,83% (yoy), terendah sejak 2009, ini penyebabnya...

Sektor kredit perbankan mengalami stagnasi dan cenderung melambat, Kredit perbankan nasional pada Agustus 2016 tumbuh 6,83% (YoY). Pertumbuhan tersebut merupakan yang terendah sejak tahun 2009. Angka itu lebih rendah dibandingkan dengan bulan sebelumnya yang sebesar 7,74% (YoY). Sepanjang tahun 2016 ini kredit hanya tumbuh 2,2%. Pertumbuhan kredit yang memburuk terutama disebabkan oleh melambatnya pertumbuhan kredit modal kerja menjadi 4,67% (YoY) dari bulan sebelumnya yang sebesar 6,08% (YoY). Proporsi kredit modal kerja terhadap total kredit merupakan terbesar yakni 46,62%. Begitu pula pertumbuhan kredit investasi yang turun menjadi 9,38% (YoY) dari bulan sebelumnya 10,39% (YoY). Sementara pertumbuhan kredit konsumsi sedikit naik menjadi 8,23% (YoY) dari bulan sebelumnya yang sebesar 8,20% (YoY). Selama Januari-Agustus 2016, penambahan kredit hanya mencapai IDR 88,38 triliun, turun 57,30% dibandingkan dengan Januari-Agustus 2015 yang mencapai IDR 206,98 triliun. 

Menurut sektoral, pertumbuhan kredit tertinggi dialami oleh sektor listrik, gas dan air bersih sebesar 29,04% (YoY) pada Agustus 2016. Kemudian diikuti oleh sektor administrasi pemerintahan, sektor konstruksi, sektor pertanian, dan sektor jasa kesehatan yang masing-masing sebesar 22,14% (YoY), 17,80% (YoY), 15,73% (YoY) dan 15,25% (YoY). Sementara kredit sektor yang mengalami kontraksi adalah sektor Badan Internasional, sektor pertambangan, serta sektor jasa kemasyarakan, sosial dan budaya yang masing-masing sebesar -45,65% (YoY), -20,18% (YoY) dan -12,65% (YoY). Dari sisi non lapangan usaha, pertumbuhan kredit tertinggi dialami oleh kredit untuk permilikan peralatan rumah tangga yang sebesar 14,94% (YoY). Sementara kredit yang mengalami kontraksi adalah kredit kepemilikan kendaraan bermotor dan kredit pemilikan apartemen yang masing-masing sebesar -5,20% (YoY) dan -1,81% (YoY).

Sementara itu dana pihak ketiga (DPK) tumbuh stagnan 5,6% (YoY) pada periode yang sama melambat dibandingkan pertumbuhan bulan sebelumnya yang tumbuh 5,90% (YoY). Dengan demikian selama Januari-Agustus 2016, penambahan DPK mencapai IDR 197,1 triliun atau turun 21,84%  dibandingkan dengan Januari-Agustus 2015 yang mencapai IDR 252,2 triliun. DPK rupiah tumbuh 9,90% (YoY) sementara DPK valas turun 13,95% (YoY). Komponen DPK terbesar masih dalam bentuk tabungan dan deposito 1 bulan. Pertumbuhan DPK terbesar pada Juni 2016 dialami oleh tabungan sebesar 14,57% (YoY), sedangkan giro dan deposito masing-masing tumbuh 1,84% dan 2,08% (YoY).

Source : bank Indonesia, bank mandiri

Comments

Popular posts from this blog

Pertumbuhan Ekonomi China Diperkirakan Turun Bertahap Sampai Akhir 2019

Kurs Rupiah menjelang akhir 2018 sampai pertengahan 2019 masih akan dibawah tekanan

Apa itu Transaksi Swap dalam Perdagangan Forex... Begini Penjelasannya...

Tren investasi melambat karena penundaan beberapa proyek industri dalam negeri

Laju pertumbuhan profit Industri China melambat, inilah penyebabnya...