Rabu, 26 Januari 2022

Aksi Wait and See Jelang FOMC Meeting, USD Menguat Terbatas

Perkembangan ekonomi di benua biru Eropa terlihat cukup bagus, data terakhir dari German IFO Business Climate Index pada January berada di level 95.7 , hal ini lebih baik dibanding forecast pelaku pasar di level 94.7, tentunya angka tersebut mengindikasikan prediksi penguatan ekonomi di Jerman yang sedang berjalan cukup bagus. Apakah hal tersebut akan membuat mata uang EUR melanjutkan penguatannya ? tentunya tidak semudah itu ferguso... sentiment positif untuk mata uang EUR ini terhalangi oleh sentiment pelaku pasar terhadap hasil FOMC meeting dan ketegangan geopolitik Ukraina Russia yang menyebabkan pelemahan signifikan pasangan mata uang EURUSD

Sementara itu dari US, data terbaru CB Consumer Confidence pada Januari dirilis melebihi ekspektasi pelaku pasar yaitu di angka 113.8 dibanding market forecast yang berada di level 111.8 , hal ini menandakan tingat kepercayaan masyarakat masih tinggi terhadap perekonomian US dan turut memberikan sentiment positif terhadap penguatan mata uang safe haven currency USD.

Pada perdagangan kemarin, sentiment – sentiment penggerak major currencies masih didominasi oleh ketegangan Rusia Ukraina dan FOMC Meeting. Bercermin dari valuasi indeks USD (DXY) dan obligasi US Treasury tenor panjang 10Y yield yang tidak bergerak terlalu signifikan, hal tersebut menandakan para pelaku pasar banyak melakukan aksi wait and see pada hasil FOMC meeting lanjutan yang akan dilakukan Kamis dini hari nanti. 

Tentunya mata uang USD sebagai safe haven currency atau disebut juga mata uang pilihan utama untuk investasi akan mendapatkan keuntungan dari ketegangan Rusia Ukraina di mana para pelaku pasar mengincar mata uang USD


Data ekonomi AS yang perlu dicermati yaitu akan ada rilis data US New Home Sales Dec dan US Crude Oil Inventories, dan FOMC Statement Kamis dini hari. Disisi lain kemarin, pasar saham US ditutup melemah dengan Dow Jones melemah -0.19% S&P500 melemah -1.22% dan Nasdaq melemah -2.28%. Pelemahan dipimpin oleh sector teknologi karena metode valuasi perusahaan - perusahaan teknologi mengandalkan yield government bonds sebagai risk-free rate atau tingkat discounted ratenya.

Lalu bagaimana prediksi kurs Dollar Rupiah jika menengok kondisi pasar keungan global diatas, Update pasar forex Dollar Rupiah pada penutupan kemarin, Kurs Dollar Rupiah dibuka di level 14,355, dengan rentang 14,350 - 14,362 dan ditutup di 14,350.5 atau melemah 8 poin dari level penutupan hari kerja sebelumnya di 14,342.5. 

Jika dibandingkan mata uang Asia Pasifik lainnya, Pada perdagangan kemarin Rupiah diperdagangkan cenderung stabil di tengah tekanan jual yang terus terjadi di mayoritas bursa saham Asia Pasifik termasuk Indonesia. Pelemahan bursa saham Asia Pasifik terus terjadi hingga mencapai level terendah sejak November 2020 menyusul berbagai pengetatan kebijakan moneter oleh beberapa negara demi menyikapi inflasi dan kenaikan suku bunga oleh The Fed, pun juga ketegangan geopolitik yang terjadi antara Rusia dan Ukraina serta volatilitas yang terjadi di bursa saham Amerika Serikat terus menjadi sorotan pelaku pasar domestik Asia Pasifik

Update terbaru pada pagi ini, indeks USD (DXY) berada pada level 96.00 sedangkan US Treasury 10YR yield berada pada level 1.776. Prediksi kurs Dollar Rupiah akan bergerak dalam range 14 340 – 14 380 dengan sentimen risk off


Tidak ada komentar:

Posting Komentar