Thursday, February 14, 2019

Inilah 5 Faktor Pemicu Pelemahan kurs EUR, Sinyal Resesi Ekonomi Zona Eropa Menguat

Inilah 5 Faktor Pemicu Pelemahan kurs EUR
Pelemahan EUR terhadap mata uang utama lainnya terus mengalami tren menurun, mata uang berkinerja terburuk beberapa minggu ini adalah Euro, setelah berhenti dari pergerakan rebound (meski kecil) pada sesi Amerika Serikat, kurs EUR parkir di posisi terendahnya. cukup banyak faktor yang menjadi pemicu penurunan kurs Euro, tetapi tekanan terbesar datang dari 5 hal dibawah ini:


  1. Kurang baiknya data ekonomi Eurozone yang masih berlanjut
  2. Optimisme kesepakatan Anggaran keuangan AS dapat menguatkan USD dan melemahkan EUR
  3. Imbal hasil obligasi Jerman yang lebih rendah
  4. Prospek PDB Eurozone yang nampaknya akan turun
  5. Permasalahan politik di Spanyol


Meskipun pelemahan kurs EUR banyak terkait rilis data penurunan produksi industri yang lebih buruk dari yang diharapkan, aksi jual EUR didorong oleh kenaikan US dolar dan masalah politik di Spanyol. Parlemen menolak draft anggaran pemerintah tahun 2019, memaksa perdana menteri untuk mempertimbangkan pemilihan umum lebih awal.

Kericuhan politik ini terakhir kali terjadi pada 2 dekade lalu. Perdana Menteri Sanchez diprediksi akan membuat keputusan untuk menyerukan pemilihan pada hari Jumat dan jika pemerintahannya jatuh, maka pemerintah koalisi sayap kanan dapat mengambil alih, dampaknya akan sangat buruk bagi kestabilan politik zona Euro.

Sementara itu Angka PDB kuartal keempat 2018 Jerman dan Zona Euro diperkirakan masih akan turun, penurunan tajam terjadi dalam penjualan kelas ritel dan kekhawatiran bank sentral Eropa tentang resiko resesi terus meningkat

Bagaimana perkembangan Brexit, kurs pound sterling berbalik arah ke zona pelemahan setelah mencapai level lumayan tinggi di 1,2960. data inflasi turun lebih dari yang diharapkan pada bulan Januari dan secara Year on Year angka nya turun di bawah 2%.

Dalam minggu terakhir, Theresa May meminta Parlemen untuk memberi waktu 2 minggu lagi, menegaskan kembali komitmennya untuk meninggalkan Uni Eropa pada 29 Maret dan opsi "No Deal". Besar kemungkinan Theresia May sedang menyiapkan skenario kekalahan, itulah sebabnya bahwa kurs pound sterling harusnya diperdagangkan lebih rendah dan tidak lebih tinggi.