Monday, March 23, 2020

Negara-negara Lakukan Stimulus Moneter Besar-Besaran untuk Netralisir Pasar dari Coronavirus, Apa itu Cukup ?

Bank sentral beberapa negara terus bekerja keras untuk mempertahankan ekonomi negara masing-masing, yang paling umum dilakukan adalah melakukan stimulus moneter dengan jumlah tertentu, tentunya hal ini diharapkan dapat membuat ekonomi bertahan dari dampak buruk Coronavirus

Respon dari Bank Sentral beberapa negara dan kebijakan ekonomi terhadap coronavirus terlihat sangat mirip dengan krisis keuangan terakhir, seperti di tahun 2008. Bank-bank sentral telah merespon dengan menambahkan likuiditas ke sektor swasta melalui jalur pertukaran atau jual beli dengan bank-bank, dan pembelian surat-surat berharga komersial dari korporasi atau istilahnya "bond buying program" dan juga telah menurunkan biaya uang melalui pemotongan suku bunga, penundaan pembayaran pokok hutang, hanya membayar bunga nya saja

Beberapa Pemerintah negara maju mengumumkan paket fiskal yang cukup besar nilainya yang akan memberikan suntikan uang tunai langsung kepada sektor bisnis dan konsumen rumah tangga. Hari ini, misalnya, pemerintah Jerman menjanjikan EUR 100 miliar, atau 3% dari total PDB akan dipersiapkan untuk stimulus moneter. Pemerintah AS telah mengumumkan stimulus fiskal berukuran USD 1 trilliun. 

Apakah hal itu sudah cukup???

Masalahnya adalah bahwa krisis karena Coronavirus ini sangat berbeda dari krisis sub prime mortgage AS di tahun 2008, di mana banyak buku pedoman makro saat ini ditulis. Krisis finansial AS di tahun 2008 adalah suatu kejutan permintaan klasik yang disebabkan oleh hilangnya kepercayaan publik terhadap sektor perbankan. Maka dari itu, untuk merespon guncangan, senjata finansial pemerintah berupa alat fiskal dan kebijakan moneter harus digunakan secara agresif untuk mengembalikan kepercayaan. 

Krisis finansial akibat penyebaran Coronavirus bukan terkait dengan sektor keuangan secara langsung. jika dikaitkan dengan fenomena "panic buying" , Ini adalah kejutan pasokan pertama dan terutama yang melimpah ke permintaan pasar. Konsumen segmen rumah tangga sangat ingin melakukan pembelian barang-barang ke toko-toko dan restoran karena mereka khawatir tentang prospek ekonomi dan stok makanan di masa depan mereka, juga karena pemerintah mengharuskan kepada mereka untuk tinggal di rumah. Liburan sebenarnya tidak dibatalkan untuk menopang keuangan rumah tangga mereka tetapi karena negara-negara telah menutup perbatasan mereka untuk antisipasi penyebaran coronavirus dari wisatawan asing yang datang entah dari negara mana. 

Dari sektor manufaktur, para Buruh tidak diberhentikan dari pabrik karena penurunan produktivitas atau karena pesanan yang tidak mencukupi untuk mendapatkan profit, tetapi karena pemilik pabrik khawatir akan risiko penyebaran penyakit. Tentu saja benar bahwa pengangguran massal yang disebabkan oleh tindakan-tindakan seperti ini akan menghasilkan penurunan dramatis dalam permintaan barang dan jasa. Benar juga bahwa efek kepercayaan diri yang disebabkan oleh langkah-langkah seperti itu kemungkinan akan menghasilkan penimbunan uang secara tunai oleh rumah tangga dan bisnis

Bagaimana Pemerintah dapat memahami hal ini secara lengkap dan menyeluruh memiliki implikasi yang sangat penting bagi respons kebijakan tepat guna melawan coronavirus. Seharusnya kita patut khawatir bahwa pembuat kebijakan dan akademisi berpikir memberikan stimulus besar adalah solusinya. 

Hal Ini dapat dimengerti karena pembuat kebijakan tampaknya berusaha mengalihkan permintaan kembali ke keadaan semula beberapa bulan yang lalu, dan pada saat yang sama dengan menahan pasokan barang secara normal. Dengan kata lain, jika pemerintah mencoba untuk mempertahankan tingkat pengeluaran konsumtif tetap normal sebelum lockdown dimulai, sementara pada saat yang sama pemerintah tetap menjadwalkan agenda akan terjadinya lockdown, maka kemungkinan akan ada lebih banyak uang mengejar barang dan jasa yang stoknya jauh lebih sedikit. Hasilnya adalah inflasi, dan inflasi dengan nilai besar

Opini tersebut mungkin tampak seperti argumen yang absurd mengingat ekspektasi inflasi pasar dan harga obligasi yang terkait inflasi, sudah mulai turun sejak krisis coronavirus dimulai. Namun, meski para ahli mengatakan bahwa meskipun krisis coronavirus ini pada akhirnya menyebabkan guncangan perdagangan, para pelaku pasar sampai sekarang masih memperkirakan permintaan akan barang dan jasa akan turun lebih banyak 


sumber : google news, yahoo finance

No comments:

Post a Comment