Wednesday, October 14, 2020

Sentimen Negatif Datang dari AS dan Eropa, Bagaimana Prediksi Rupiah ?

Ada beberapa sentimen negatif yang datang dari luar negeri dengan kemungkinan akan menggerakkan dinamika kurs US Dollar terhadap Rupiah, apakah itu... mata uang Paman Sam Dolar AS melonjak dan pasar ekuitas anjlok setelah salah satu perusahaan farmasi andalan Amerika Serikat, Johnson&Johnson (J&J), mengumumkan penghentian sementara uji vaksin virus Corona. Hal ini dikarenakan dari 60 ribu relawan, beberapa di antaranya justru mengalami penyakit misterius yang belum dapat dijelaskan setelah disuntikkan vaksin percobaan tersebut. Kabar itu seketika meredam optimisme pasar akan penemuan vaksin Corona, sehingga permintaan akan mata uang safe-haven USD meningkat.




Selain daripada itu, data ekonomi AS malam ini turut memberikan sentiment positif bagi penguatan bagi Dolar AS. Inflasi Konsumen (CPI) tahunan AS naik 1.4 persen di bulan September, dari 1.3 persen di bulan Agustus. Perolehan tersebut sesuai ekspektasi dan menjadi yang tertinggi sejak bulan Maret 2020. Tentunya menambah pendorong untuk penguatan lanjutan kurs US Dolar terhadap mata uang global lainnya





Prediksi kurs Dollar Rupiah hari ini akan diperdagangkan di level 14650/14900 dengan kecederungan penguatan USD secara terbatas, Indeks Dolar AS (DXY) naik 0.56% ke 93.56.

Sementara itu dilaporkan dari benua biru, Euro melemah terhadap Dolar AS merespon isu vaksin Covid-19 terbaru tersebut. Selain itu, data ekonomi Jerman dan Zona Euro dirilis mengecewakan kemarin sore. Di bulan Oktober ini, indeks ZEW Economic Sentiment Jerman turun ke 56.1, dari 77.4 di bulan September jauh dibawah ekspektasi 74.1. Sedangkan indeks sentimen Ekonomi ZEW untuk zona Euro turun ke 52.3 dari  bulan sebelumnya 73.9. Hasil tersebut juga jauh di bawah ekspektasi 72.0.

Dan memang di Eropa sendiri, penyebaran virus Corona babak lanjutan kedua mulai membuat sejumlah negara kewalahan dan pembatasan sosial terancam makin diperketat. Perdana Menteri Prancis Jean Castex mengatakan bahwa jika dalam dua minggu ke depan indikator infeksi virus Corona memburuk dan pasien yang tumbang lebih banyak daripada perkiraan, maka perlu dipertimbangkan kebijakan yang lebih ketat. Pemerintah tak akan mengesampingkan apapun termasuk pembatasan sosial kembali. Infeksi virus Corona yang kembali merebak dapat menghambat pemulihan ekonomi Eropa pasca krisis akibat wabah babak pertama.




Pun juga di kota-kota besar di Eropa seperti Madrid di Spanyol dan Liverpool di Inggris diberitakan terjadi lonjakan kasus baru penularan virus Corona secara signifikan, mata uang benua biru EUR/USD melemah 0.64 persen ke 1.1735,


No comments:

Post a Comment