Wednesday, October 14, 2020

Bank Indonesia Pertahankan Bunga Acuan 4%, Deposit Facility 3.25% dan Lending Facility 4.75%

Pergerakan Dollar Rupiah cenderung flat dengan kecenderungan mata uang rupiah masih mengalami pelemahan terbatas, mereview perdagangan kemarin, Rupiah melemah sebesar 0.17% ke level USD/IDR 14,715. Hal ini terkait masih minimnya sentimen baru ditengah ketidakpastian terkait stimulus fiskal AS serta situasi politik jelang pemilu US membuat pelaku pasar cukup berhati - hati dalam menentukan langkah kedepannya. 

Langkah-langkah pemulihan ekonomi yang diambil pemerintah dalam upaya pemulihan ekonomi nasional cukup memberikan angin segar terhadap sentimen pasar, namun hal tersebut masih belum cukup kuat untuk mendorong pelaku pasar untuk lebih agresif. Hal ini tercermin dari pergerakan pasar obligasi dimana dalam beberapa waktu terakhir diperdagangkan dalam range yang sempit.




Sementara itu ada update terbaru dari bank sentral, Bank Indonesia memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuan BI 7-Day Reverse Repo Rate (BI 7DRRR) sebesar 4%, suku bunga Deposit Facility sebesar 3,25% dan suku bunga Lending Facility 4,75%. Keputusan ini diambil dalam Rapat Dewan Gubernur BI pada 12-13 Oktober 2020 dengan berhati-hati dan mempertimbangkan perlunya menjaga stabilits nilai tukar rupiah di tengah inflasi yang diperkirakan tetap rendah. 

Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo, mengatakan bahwa BI menekankan pada jalur kuantitas melalui penyediaan likuiditas termasuk dukungan BI ke pemerintah dalam mempercepat realisasi APBN tahun 2020 guna mendorong pemulihan ekonomi dari dampak covid. BI melihat pemulihan di dalam negeri membaik terutama didorong stimulus fiskal dan ekspor. Belanja pemerintah meningkat didorong stimulus perlindungan sosial dan kegiatan usaha mikro kecil dan menengah




Kembali ke negara adidaya Paman Sam, pembicaraan paket Stimulus fiskal mengalami kebuntuan. Imbasnya Bursa Saham Wall Street terkoreksi anjlok setelah optimisme pelaku pasar kembali redup terkait kesepakatan stimulus yang tak kunjung sepakat. DPR-nya Amerika Serikat Nancy Pelosi mengatakan bahwa jumlah stimulus yang diajukan oleh White House "falls significantly short" dari yang dibutuhkan perekonomian US. 

Sementara itu, lembaga moneter internasional atau disebut juga IMF telah merevisi forecast global GDP 2020 menjadi turun 4,4% vs 5,2%. Namun di tahun 2021, IMF memproyeksikan global GDP tumbuh 5,2% vs 5,4%.






No comments:

Post a Comment