Tuesday, December 11, 2018

Ketidakpastian Brexit Deal dan Perang Dagang AS-China Bikin Kurs Rupiah Melemah

Indeks DXY ditutup menguat 0.70% ke level 97.15, dimana penguatan kurs USD didorong oleh pelemahan GBP ditengah kabar Theresa May yang menunda Parliamentary Vote atas Brexit Deal yang seharusnya dilaksanakan hari ini, hingga tanggal yang belum ditentukan. 


Diperkirakan penundaan ini karena adanya kemungkinan Brexit Deal tidak akan mendapatkan jumlah vote yang cukup untuk disetujui oleh Parlemen UK. Kabar tersebut meningkatkan ketidakpastian atas masa depan Brexit Deal. GBP/USD melemah 1.59% menyentuh level terendah dalam 21 Bulan terakhir pada level 1.2549.


Bagaimana respon Uni Eropa terhadap perkembangan Brexit..., EU Commisioner Donald Tusk menyatakan tidak akan melakukan negosiasi ulang, namun siap membahas ratifikasi UK. Serta, dengan semakin mendekatnya deadline maka mereka pun telah bersiap akan kemungkinan tidak tercapainya kesepakatan atas Brexit. EUR/USD 0.22% ke level 0.22% ke level 1.1354.
Sedangkan dari Asia USD/JPY menguat 0.43% ke level 113.19.

baca juga: Ancaman resesi ekonomi global merebak

Berlanjut ke berita dalam negeri, dari Pasar Domestik, Kurs Spot USD/IDR dibuka pada level 14,500/14,530, diperdagangkan dalam rentang 14,515-14,560, dan ditutup pada level 14,550/14,560. JISDOR berada pada level 14,517.

Dari pasar obligasi dalam negeri, SUN benchmark diperdagangkan melemah 110 – 160 bps kemarin sejalan dengan pelemahan Rupiah yang ditutup pada level USD/IDR 14,555. SUN 11Yr (FR0078) dibuka pada level 8.05% dan ditutup pada level 8.18%.

baca juga: Kekhawatiran pelaku pasar obligasi terhadap ancaman resesi

Sementara itu, pasar saham Asia juga ditutup pada teritori negatif dengan indeks Nikkei dan Hang Seng masing-masing melemah 2.12% dan 1.19%. IHSG mencatatkan pelemahan sebesar 0.24% ke level 6,111 dengan net jual asing sebesar IDR 1,05 Triliun. Sentimen risk off terjadi setelah Wakil Menteri Luar Negeri China memanggil Duta Besar AS untuk China sebagai protes akan penangkapan petinggi Huawei. Investor juga khawatir akan perlambatan ekonomi dunia setelah rilis GDP kuartal III Jepang yang lebih buruk dari ekspektasi (-0.60% vs -0.50% survei) serta sinyal perlambatan domestik maupun internasional yang terjadi di China, ditandai dengan data PPI China periode November 2018 sebesar 2.70% YoY, terendah sejak Oktober 2016 serta pelebaran neraca perdagangan akibat menurunnya impor.