Thursday, December 13, 2018

Trade War: Amerika Serikat vs China atau Koalisi Ekonomi Barat vs China? Ini Cerita Lengkapnya...


Isu perang dagang AS vs China memang menarik untuk terus dicermati perkembangan setiap detailnya, dari latar belakang, skenario sampai konklusi yang mungkin dapat terjadi, saat ini kedua negara saling memberi waktu jeda 90 hari untuk mencari titik temu yang terbaik.

Amerika Serikat bisa saja memperkuat daya tawarnya, negosiator Amerika Serikat bisa bergabung dengan rekan-rekan atau sekutu mereka yaitu Uni Eropa dan Jepang untuk membentuk Koalisi Bersama, untuk mendorong reformasi sistem ekonomi China. Meskipun sampai saat ini, Trump belum memberi sinyal apa pun mengenai skenario tersebut, namun hal ini ada baiknya untuk dipertimbangkan serius

Ya bisa saja disebut koalisi ekonomi barat, mereka berorientasi untuk menciptakan stabilitas pasar perdagangan global dengan membuat tiga item mendasar untuk negoisasi dengan China. Pertama, Beijing harus secara keras dan tegas bersikap terhadap spionase cyber atau copy paste hak cipta yang disponsori negara dan pencurian rahasia data perdagangan komersial antar negara. Kedua, pemerintah China juga diharuskan berubah dan move on dari sistem legacy yang memaksa perusahaan-perusahaan negara barat untuk membentuk usaha patungan dengan perusahaan domestik jika ekspansi masuk industri China, Hal ini bisa menciptakan ketegangan dengan perusahaan-perusahaan yang dipaksa untuk mentransfer teknologi mereka dengan istilah secara non-komersial. Dan tentunya China harus memotong subsidi industri negaranya untuk menopang perusahaan-perusahaan milik negara.


Bahkan, para menteri perdagangan Eropa dan Jepang telah bekerja di belakang layar (dengan dukungan dari Perwakilan Perdagangan AS, Trump dan Robert Lighthizer) untuk merumuskan aturan baru mengantisipasi setiap masalah perdangangan internasional jika berhadapan dengan China. Ketiganya mengumumkan inisiatif tersebut hampir tepat setahun yang lalu di sela-sela konferensi Organisasi Perdagangan Dunia, secara kebetulan juga di Argentina, Buenos Aires. Kelompok trilateral ini mengungkapkan kemajuan lebih lanjut setelah pertemuan pada bulan Maret di Brussels, Mei di Paris, dan pada bulan September di New York.


Terkait jeda waktu pembicaraan tarif dagang AS dan China yang diumumkan 1 Desember memberi peluang bagi kelompok trilateral ini untuk menjalankan rencana mereka. Trump bisa saja masuk bersatu kembali dengan Presiden Komisi Uni Eropa Jean-Claude Juncker dan Perdana Menteri Jepang Shinzo Abe, untuk menghadapi China secara bersama dengan memanfaatkan paket rumusan insentif ekonomi yang tepat.


Sejauh mana kemungkinan mereka (koalisi barat) harus bekerja sama, ingatlah bahwa negosiator Amerika sudah mencoba menekan Beijing sendirian. Meskipun luput dari perhatian publik pada saat itu, sudah mulai dijalankan pemerintahan Obama upaya berkelanjutan tersebut untuk merundingkan perjanjian investasi bilateral dengan China yang saling menguntungkan kedua negara

Upaya ini berujung untuk mencari kesepakatan terbaik dengan memprioritaskan perlindungan perusahaan-perusahaan asing dari penderitaan masalah-masalah yang sama yang kini ingin diperbaiki dan dipercepat oleh Trump. Bahkan lebih fokus menyorot pada pemaksaan transfer ilmu teknologi dan pencurian hak kekayaan intelektual paten produk Amerika Serikat, serta beberapa kekhawatiran yang lain dan penegakan hukum yang lebih baik.


Betapapun menariknya skenario tersebut, pendekatan perjanjian bilateral AS-Cina mungkin terancam gagal, Hal ini sesuai pendapat pakar ekonomi Harvard, Mancur Olson, peristiwa ini sebagai masalah aksi kolektif dan akumulatif "Kerugian Ekonomi" yang disebabkan oleh praktik perdagangan China yang disinyalir tidak adil tersebar di semua mitra dagangnya secara global, yang masing-masing mitra dagang tersebut hanya memiliki sedikit daya tawar untuk bertindak. Oleh karena itu, jika Trump beraksi sendirian, Amerika Serikat tidak memiliki cukup daya tawar untuk meminta China melakukan perubahan struktural yang diperlukan untuk membuat perbedaan ke arah yang lebih baik

Bagian menariknya ada disini, sedikit paradoks memang, Amerika tidak akan mendapatkan semua keinginannya dan manfaat jika China bersedia mengambil semua usulan reformasi yang diminta koalisi ekonomi barat. Beijing tidak dapat meningkatkan perlindungan kekayaan intelektual dengan cara yang telah ditetapkan atau ditargetkan yang tentunya hanya akan menguntungkan perusahaan-perusahaan, ilmuwan, dan pekerja Amerika, juga akan membantu para perusahaan di Jerman, Jepang, dan Inggris. 


Bagaimana mengetahui sampai batas mana kemampuan AS bernegosiasi sendirian tanpa bantuan sekutu? Nah disini Beijing mengakui bahwa AS tidak memiliki daya tawar lebih untuk melakukan pertarungan tarif dagang yang lebih massive melawan China. Ambil contoh mengapa pekerja mobil Amerika di South Carolina akan terpukul dengan turunnya besaran volume ekspor mereka ke pasar China disaat Beijing menerapkan pembalasan tarif, dan tentunya perlakuan ini membuat suplai pabrik mobil di Eropa atau Jepang masuk ke pasar China lebih banyak, dan contoh berikutnya yaitu Petani kedelai Amerika telah memperhatikan bahwa besaran tarif pada musim gugur untuk masuk ke China meningkat tajam, imbas nya China akan beralih mengimpor sumber pangan kedelai ke negara-negara kompetitor Amerika Serikat, seperti Brasil


Lalu bagaimana mengetahui batas kemampuan China bernegoisasi dengan AS, Nah ternyata ketakutan terbesar China adalah salah satunya yaitu aksi kolektif trilateral melawan China oleh Uni Eropa, Jepang, dan Amerika atau bisa kita sebut koalisi ekonomi barat. Beijing kemungkinan akan segera memberi Trump yang terbaik, yaitu dengan kesepakatan setuju membeli lebih banyak produk pertanian atau industri yang dihasilkan perusahaan-perusahaan Amerika, tetapi tentu tidak berbuat banyak gerakan reformasi sistem ekonomi China yang sekarang berjalan. Penawaran ini akan menggoda Trump. Menjual persediaan kedelai Amerika yang terus bertambah atau juga mobil-mobil di tempat parkir yang meluap di dermaga dengan status siap kirim, tentunya akan menarik perhatian Trump yang sejauh tertarik di mana hanya orang Amerika yang mendapat manfaat. Sesuai dengan jargon pada masa kampanye "makes Americans great again"

Namun jika skenario ini terjadi, yaitu China mengimpor lebih banyak produk pertanian atau mobil dari Amerika tanpa reformasi ekonomi dalam negeri China secara total, mungkin akan melukai sekutu AS seperti Uni Eropa atau Jepang. Tawaran yang sangat menggoda tetapi sangat beracun, karena tidak memperbaiki masalah inti yang bersifat jangka panjang dengan sistem ekonomi China, pastinya ini akan semakin melemahkan kemitraan trilateral AS-Uni Eropa-Jepang yang selama ini juga sudah rapuh dengan munculnya sinyal resesi di Uni Eropa

Beberapa skenario tersebut oleh pemerintahan Trump tetap dipertimbangkan secara serius dalam memperbaiki hubungan perdagangan dengan China. jeda waktu 90 hari berikutnya juga dapat terlihat apakah niat sebenarnya adalah untuk membatasi kenaikan tarif oleh China kepada AS atau berdasarkan pada beberapa anggapan keamanan ekonomi nasional atau mungkin juga kekhawatiran non-ekonomi lainnya.

sumber: harvard business

Hot Topics

Abenomics (1) Analisis Ekonomi Makro (9) Angka Inflasi (1) Asuransi Jiwa (3) Bank Indonesia (15) Bank of England (1) Bank of Japan (2) Basic Forex Trading (34) Belajar Trading Forex (87) Bitcoin (4) Blockchain (4) Brexit Deal (27) Bursa Saham Amerika Serikat (4) Cadangan Devisa Indonesia (13) Cash Transaction (8) Credit Default Swap (3) Cryptocurrency (4) Cryptokittens (3) Dana Pensiun (6) Dasar Forex Trading (40) Day Trader (65) Deflasi di Jepang (15) Ekonomi Amerika Serikat (8) Ekonomi ASEAN (13) Ekonomi China (24) Ekonomi India (1) Ekonomi Jepang (5) Ekonomi Proteksionis (24) Ekonomi Singapore (2) Ekonomi Zona Eropa (26) Entrepreneur (21) Ether (2) Fintech (1) Fitch Rating Agency (3) Forex Trading Platform (35) Global Bonds USD (14) Harga Minyak (45) Imbal Hasil Obligasi (17) Indikator Makro Ekonomi (139) Inflasi Volatile Food (1) Info Ekonomi Indonesia Terkini (140) Info Kurs Rupiah US Dollar (51) Info Kurs Valas Hari Ini (299) Info Special Rate Valuta Asing (130) Investasi (136) Investasi Apartment (1) Investasi Non Migas (21) Investasi Real Estate (1) Investasi Rumah Villa (1) Investor (46) Ketentuan Umum Structured Product (2) Krisis Hutang Yunani (13) Krisis Hutang Zona Eropa (27) Krisis Moneter Turki (11) Kurs EUR US Dollar (20) Kurs Pound Sterling (21) Likuiditas Keuangan Negara (53) Mata Uang Digital (2) Moneter dan Perbankan Indonesia (176) Neraca Perdagangan Indonesia (1) Obligasi Ritel Indonesia (2) Pasar Obligasi (18) Pasar Saham Asia Tenggara (4) Pedoman Transaksi Treasury (2) Perang Tarif Dagang Amerika Serikat dan China (59) Perang Tarif Perdagangan Amerika Serikat dan China (22) Pertumbuhan Ekonomi Asia Tenggara (10) Pertumbuhan Ekonomi China (8) Pertumbuhan Ekonomi Zona Eropa (32) Prediksi Kurs Dollar Rupiah (88) Produk Domestik Bruto (22) Realisasi Tax Amnesty (5) Referendum Brexit (25) Resesi Ekonomi Global (20) Safe Haven Currency JPY (4) Saving Bond Ritel (3) SBN Ritel Indonesia (3) Sektor Jasa Keuangan dan Asuransi (77) Strategi Investasi (2) Strategi Investasi Property (1) Structured Product bagi Perbankan (2) Structured Product di Indonesia (3) Suku Bunga Negatif (37) Suku Bunga Rendah (57) Suku Bunga USD The Fed (84) Sukuk Ritel (2) Sukuk Tabungan (2) Surat Berharga Negara (3) Surat Utang Negara (3) Tax Amnesty di Indonesia (14) Tingkat Suku Bunga (22) Trade Balance Indonesia (1) Transaksi Forex Swap (2) Undang-undang Pengampunan Pajak (4) US Treasury Notes (9) Yield Obligasi (19)