Wednesday, November 18, 2020

AS dan Eropa Melakukan Lockdown Partial, Bagaimana Peluang Penguatan Kurs Rupiah ?

Euforia perkembangan vaksin yang menjadi sentimen positif mata uang Rupiah akhir-akhir ini nampaknya terhalang oleh merebaknya penyebaran virus covid-19 di belahan benua Eropa dan AS, Sentimen negatif kembali muncul, di laporkan dari pasar FX Global, Dolar AS melemah ke level terendah satu pekan di sesi perdagangan Selasa (17/11) malam. Selain karena peningkatan optimisme vaksin virus Corona, data Penjualan Ritel (Retail Sales) AS dirilis tercatat lebih rendah daripada ekspektasi. Indeks Dolar AS (DXY) tergelincir 0.25% persen ke 92.40. 

Secara lebih rinci Departemen Perdagangan AS mencatat pertumbuhan Penjualan Ritel pada bulan Oktober hanya 0.3 persen; lebih rendah daripada ekspektasi 0.5 persen dan turun dari 1.6 persen di bulan September. 

Para pengamat memperkirakan bahwa Penjualan Ritel AS untuk beberapa bulan ke depan juga masih suram, mengingat sejumlah wilayah di negara tersebut kembali memberlakukan pembatasan sosial (PSBB) untuk mencegah virus Corona menyebar lebih luas. Dan durasi lockdown masih sangat mungkin akan berlangsung lama seiring mulai masuknya musim dingin, yang dikhawatirkan semakin memperburuk kondisi kesehatan warga

Sentimen positif Berita dari Moderna perusahaan farmasi tentang efektivitas dari hasil uji coba vaksin Covid-19 hingga 94.5%, memberikan sentiment positif terhadap mata uang emerging market termasuk penguatan Rupiah. Tetapi ini tidak berlangsung lama karena AS saat ini berjuang untuk menahan gelombang kedua infeksi, dan pertimbangan distribusi vaksin yang mungkin tidak dapat dilakukan dalam waktu dekat. 


Sementara itu Organisasi Kesehatan Dunia memperingatkan bahwa masih ada kendala tentang pengiriman dan penyimpanan vaksin walaupun Moderna mengklaim bahwa vaksinnya dapat disimpan pada suhu lemari es normal hingga 30 hari yang akan membantu meringankan masalah distribusi.

Tercatat mata uang USD melemah terhadap mayoritas mata uang global lainnya USD/JPY turun 0.33 persen ke 104.22, EUR / USD naik 0,2% menjadi 1,1862, AUD / USD turun 0,2% menjadi 0,7290.

Menilik pergerakan kurs Dollar Rupiah, kemarin diperdagangkan pada rentang 14,055-14,090. USD/IDR di tutup pada level 14,030/14,080 dan JISDOR berada pada level 14,073.



Lalu bagaimana perkembangan minat investor asing terhadap ekonomi domestik Indonesia, di update dari pasar obligasi, nampaknya Pelaku pasar baik domestik maupun global masih menunjukkan minat yang tinggi terhadap SBN Indonesia sehingga mendorong level yield kembali turun pada perdagangan kemarin. Harga SUN Benchmark mengalami penguatan sebesar 30-50 Bps dengan yield FR0082 ditutup pada level 6.14%. 

Mengapa demikian, Hal ini sejalan dengan penguatan rupiah yang juga ditutup menguat ke level 14,055/US$. Pergerakan pasar SBN kali ini melanjutkan rally pada minggu lalu yang sempat tertahan dikarenakan aksi profit taking yang dilakukan oleh investor. Banyak pelaku pasar melihat bahwa yield SUN Benchmark 10yrs memiliki potensi untuk melewati level terendahnya sejak Januari 2018 di 6.08% untuk kemudian menuju level psikologis di 6.00%. 





Patut dicermati bahwa hari ini pelaku pasar juga menantikan Bank Indonesia yang akan melaksanakan Rapat Dewan Gubernur (RDG) pada 18-19 November nanti, dimana beberapa analis memperkirakan terdapat kemungkinan Bank Indonesia akan memangkas suku bunga acuannya sebesar 25 bps menjadi 3.75% pada akhir tahun ini. 

Hal tersebut juga menjadi salah satu faktor penggerak pasar dimana investor global masih aktif memburu yield SBN Indonesia yang dinilai cukup atraktif. Pada beberapa hari lalu saat diadakan rapat kerja dengan DPR RI , Gubernur BI, Perry Warjiyo, menyatakan bahwa ke depannya masih ada ruang untuk penurunan suku bunga acuan sembari mengawasi perkembangan ekonomi domestik maupun global. Selain itu, Perry Warjiyo juga optimis pertumbuhan ekonomi ekonomi Indonesia di kuartal IV-2020 akan mengalami pertumbuhan yang positif lewat membaiknya pertumbuhan ekonomi pada kuartal III-2020.


No comments:

Post a Comment